Siapa yang berhak menjadi Wali Nikah untuk mempelai Perempuan ??

Wali Nikah untuk mempelai perempuan

Pertanyaan :

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh…

Bacaan Lainnya

Ust. Siapa saja yang boleh saya jadikan sebagai wali nikah dari seorang mempelai perempuan ?

Jawaban :

Waalaikum salaam Warohmatullohi Wabarokatuh…

Dalam akad pernikahan, salah satu syarat sahnya adalah dengan adanya Wali Nikah. Mempelai perempuan tidak bisa menikah dengan mandiri tanpa adanya seorang Wali.

Wali Nikah yang paling utama adalah ayah kandung sah. Kadang kala di kehidupan sosial diantara kita, ada sahabat kita yang kurang beruntung dengan tidak mempunyai seorang ayah. Maka, menurut syariat islam ada beberapa orang yang sah di jadikan sebagai wali nikahnya mempelai perempuan.

Nabi SAW pernah bersabda dari Riwayat Aisyah RA :

“Barangsiapa diantara perempuan yang nikah dengan tidak seizin walinya, nikahnya itu batal.” (HR Aisyah RA)

Ibnu Majah juga meriwayatkan :

“Jangan menikahkan perempuan akan perempuan yang lain dan jangan pula menikahkan perempuan akan dirinya sendiri” (HR Ibnu Majah)

Wali Nikah sendiri terdiri dari 3 yaitu Wali Nasab, Wali Hakim dan Wali Muhakkam. Yang paling diutamakan adalah wali nasab kareng berhubungan keluarga dari calon pengantin. Dari beberapa jenis Wali ini harus memenuhi kriteria yaitu Sehat akal, Beriman, Baligh, Adil dan Merdeka.

Wali Nasab

Sejatinya Nasab sendiri adalah garis keturunan dimana masih ada hubungan darah dengan mempelai. Sejatinya yang berhak menjadi wali nikah dari Nasab tidak bisa di acak atau harus berurutan seperti yang di sampaikan oleh Imam Abu Suja’ dalam kitabnya “Matan Al Ghaayah wal Taqrib”.

وَمَن لَّمْ يَسْتَطِعْ مِنكُمْ طَوْلًا أَن يَنكِحَ ٱلْمُحْصَنَٰتِ ٱلْمُؤْمِنَٰتِ فَمِن مَّا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُكُم مِّن فَتَيَٰتِكُمُ ٱلْمُؤْمِنَٰتِ ۚ وَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَٰنِكُم ۚ بَعْضُكُم مِّنۢ بَعْضٍ ۚ فَٱنكِحُوهُنَّ بِإِذْنِ أَهْلِهِنَّ (Surat An-Nisa Ayat 25)

Adapun urutan wali nasab adalah diantaranya :

  1. Ayah Kandung
  2. Kakek (ayahnya ayah kandung)
  3. Saudara lelaki seayah seibu (kandung)
  4. Saudara lelaki seayah lain ibu
  5. Anak lelaki saudara lelaki seayah seibu (keponakan kandung)
  6. Anak lelaki saudara lelaki seayah (keponakan)
  7. Paman seayah, yaitu saudara dari ayah sebapak lain ibu
  8. Anak-anak dari paman kandung (sepupu)
  9. Anak lelaki paman dari pihak ayah

Wali Hakim

Rosulullah SAW pernah pernah menamai Wali hakim sebagai “Sulton” yang dalam bahasa arab, artinya Penguasa. Dalam Hukum islam adanya Wali Nikah adalah sebuah keharusan.

Biasanya dalam penentuan wali hakim dalam suatu pernikahan sangat jarang terjadi. Ini di karenakan yang bersangkutan harus menjadi pilihan terakhir jika wali nasab di atas tidak bisa mengemban amanahnya seperti sedang pergi Umrah dan Haji serta dluruf/sesuatu yang tidak bisa di tinggalkan dll.

Menurut negara pengertian wali hakim ini di Pasal 1 huruf b KHI menyebutkan: : “Wali hakim ialah wali nikah yang ditunjuk oleh Menteri Agama atau pejabat yang ditunjuk olehnya, yang diberi hak dan kewenangan untuk bertindak sebagai wali nikah”.

Ibnu Qudamah mengatakan ;

السلطان في ولاية النكاح هو الإمام أو الحاكم أو من فوضا إليه ذلك

Sulthon dalam perwalian nikah adalah pemimpin, hakim atau orang yang dipasrahi untuk menangani masalah pernikahan. (al-Mughni, 7/17).

Beberapa alasan atau kondisi yang memungkinkan wali hakim berhak menikahkan calon pengantin perempuan adalah karena :

  1. Wali Nasab meninggal/tidak ada
  2. Wali Nasab terkendala jarak karena sedang di lokasi yang sangat jauh dan mengamanahkannya ke Wali Hakim
  3. Wali Nasab kehilangan Hak dan perWaliannya
  4. Wali Nasab sedang menjalankan Ibadah Haji dan Umroh.
  5. Wali Nasab menolak dan tidak berkenan

Wali Muhakkam

Wali Muhakkam adalah pilihan terakhir bagi seorang mempelai perempuan untuk sah dalam pernikahannya. Biasanya wali muhakkam bertindak sebagai wali nikah ketika Wali Nasab dan Wali Hakim menolak dan atau ada alasan yang lain.

Biasanya yang di jadikan sebagai Wali Muhakkam adalah seorang Pemuka Agama seperti kyai, Tokoh masyarakat dll. Pernikahan dengan Wali Muhakkam di perbolehkan karena mempunyai beberapa ijtihad hukum fiqih yang berlandaskan syariat islam.

Pandangan Madzhab Syafi’i untuk Wali Muhakkam

Jika ditelusuri dari sejarah yang masyhur, Wali Muhakkam ini berasal dari riwayat Yunus bin Abdil A’la. Menurut Imam Nawawi yang notabene Syafi’iah, dia berkata dalam kitabnya, Imam Syafi’i pernah berkata : “Jika dalam suatu rombongan perjalanan (rufqah), seorang perempuan yang tidak memiliki wali, lalu si perempuan menyerahkan persoalannya kepada seorang laki-laki, sehingga lelaki itu menikahkannya, maka hal itu diperbolehkan.” (Raudhatu ath-Thalibin (juz 5, hal. 395-397)”.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *