Hukum Fertilisasi (Sperma lelaki lain) ke rahim perempuan menurut islam

Fertilisasi Sperma

Ketetapan syariat islam tentang merebaknya praktik-praktik fertilisasi buatan dapat disimpulkan sebagian besar mengacu pada asal sperma dan telur sebagai pembentuk fundamental bagi janin. Bila sperma bersumber dari suami sendiri maka pembuahan bantuan dianggap sah dalam lingkaran syariat maupun Undang-undang.

Secara teknis, hal ini dianggap sebagai suatu hal yang boleh serta tidak berdosa dan tidak bersalah. Di situasi tersebut, tindakan itu bisa menjadi sarana untuk mendapatkan keturunan yang sah secara syariat dan berhak atas hak waris keluarga.

Dengan hadirnya keturunan demikian, kehidupan berkeluarga akan dapat berjalan semestinya, lebih lagi kebahagiaan mereka akan sempurna, baik dalam lingkup keluarga maupun dalam sosial masyarakat.

Lain halnya bila bayi berasal dari pembuahan sperma lelaki lain yang asal sembarang dibuahkan dengan sel telur istri, perempuan yang sama sekali tak ada ikatan istri dengannya. Konsep semacam inilah yang kerap kali terjadi bila ada orang mempraktikkan teknologi pembuahan buatan. Perlu diingat, pelaksanaan konsep di atas sejatinya telah mendepak manusia laksana siklus binatang dan tumbuhan.

Selain itu, juga mengeluarkan si pelaku dari derajat manusia, yang berarti ia telah mencederai martabat sosial masyarakat yang kehidupannya teruntai dari hasil ikatan-ikatan pernikahan yang baik, kemudian diumumkan secara terbuka kepada para khalayak sekitar.

Korelasi antara proses Fertilisasi dengan Berzina

Konsep fertilisasi “sembarangan” dalam pandangan syariat Islam yang mana telah memiliki ikatan berpasangan nan terstruktur merupakan hal yang sangat mungkar.

Di lain sisi juga termasuk dosa besar seolah zina dibungkus dalam frame baru, sebab inti sarinya sama, serta prinsipnya sama, yakni mencampuradukkan mani laki-laki lain dengan yang bukan istrinya.

Bahkan andai kata hukumnya tidak direduksi agar lebih ringan, pastinya pelaku akan diberi sanksi seimbang dengan zina muhsan, yakni rajam hingga mati. Nauzubillah

Kawin silang lebih keji daripada Tabanni

Tatkala perkawinan bibit manusia diproses dengan konsep asal silang, niscaya kadar kejahatannya lebih berat dan lebih mungkar dibandingkan dengan praktik tabanni, yaitu asal menasabkan anak orang lain atas namanya.

Nah, kawin silang bahkan lebih keji dosanya dibanding itu, sebab anak tabanni hakikatnya tetap berasal dari hubungan intim yang sah, hanya saja di kemudian hari nasabnya malah ditautkan atas nama orang lain, lalu orang itu memasukkannya dalam nama keluarganya padahal dia sendiri tahu bahwa tiada silsilah darah di antara mereka.

Di lain pihak, ia tidak mau memperlakukan anak tersebut seperti orang lain, ia menghitungnya sebagai anggota keluarga sekaligus tutup mulut mengenai masa lalu anak tersebut. Inilah betapa kejinya kawin silang, esensinya ia terdiri dari tabanni – memasukkan keturunan asing dalam nasab – disertai zina dalam frame baru yang mana terlarang dalam syariat dan Undang-undang.

Lebih jauh lagi, kejahatan ini akan senantiasa menyeret manusia dari derajat sosial masyarakat yang luhur ke dalam tingkatan binatang, makhluk yang tidak memiliki nurani dan perasaan. Semua alasan di atas melahirkan dua kehinaan: menyisipkan nasab, dan aib seumur hidup. Semoga Allah memelihara nasab dan derajat seluruh kaum muslimin.

Dalil Haramnya Fertilisasi

Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi (Ulama kenamaan Mesir) memiliki argumen; dasarnya Manusia tidak meyakini bahwa kemandulan merupakan pemberian dan takdir dari tuhan.

Sebab Allah Swt. Telah berfirman:
لِّلِّٰ مُِلْكُِ اِلسَّمٰوٰتِّ وَِا لَِْْرْضِّ يَخْلُقُِ مَِا يَِشَآءُِ يَهَبُِ لِّمَنِْ يَِّشَآءُِ اِّنَا ثًِا وَِّيَهَبُِ لِّمَنِْ يَِّشَآءُِ اِلذُّكُوْرَِ ) ٤٩ )
اَوِْ يُِزَ وّجُهُمِْ ذُِكْرَا نًِا وَِّاّنَا ثًِا وَيَجْعَلُِ مَِنِْ يَِّشَآءُِ عَِقّيْمًا اّنَّ هِ عَِلّيْ مِ قَِدّيْ رِ) ٥٠ )

“Milik Allahlah kerajaan langit dan bumi; Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Maha Kuasa.” (QS. Asy-Syura 42: Ayat 50)

Sejatinya pasangan yang mandul tetap dikaruniai alat-alat reproduksi, hanya saja tidak berfungsi, sedangkan pasangan yang lain berfungsi dan dapat bereproduksi.

Namun yakinilah, kekuasaan Allah Swt. lebih besar dari sekedar menyuburkan reproduksi orang. Di antara kuasa-Nya: Nabi Adam as diciptakan tanpa Ayah dan Ibu, siti Hawa’ terbentuk dari tulang rusuk laki-laki, dan Nabi Isa as dilahirkan tanpa Ayah.

Mengenai bank sperma yang beralibi ingin membantu mengatasi kemandulan dan mengaku hanya bermaksud melayani masyarakat, Syekh Mutawalli berargumen bahwa justru inilah celah-celah pintu masuknya setan, lantas pelayanan apa yang dimaksud?

Sebenarnya esensi kemandulan pada manusia itu layaknya orang buta; ia merupakan perantara Allah Swt. untuk mengungkapkan nikmat-Nya kepada orang yang tidak buta, di lain sisi, terkadang Allah Swt. memberi sifat-sifat kegeniusan kepada orang-orang yang cacat di mana orang lain memandang sebagai ganti baginya.

Dapat kita bayangkan bagaimana Timur Lenk, seorang penguasa yang cacat mampu untuk menaklukkan dunia, bagaimana sosok yang telah mempersembahkan musik kepada manusia hingga kini, Beethoven, ternyata malah orang yang tuli, lalu tokoh yang mencetuskan era baru dalam sastra arab, serta menjadi menteri yang mengatur orang-orang yang bisa melihat, yakni Taha Hussein, dia adalah orang buta.

Maka dari itu, pantaslah kita selalu menyukuri apa pun yang diberikan tuhan. Lebih lagi, Allah Swt. telah menganugerahkan rasa nikmat dalam proses pembuahan manusia. Andaikata dalam hubungan intim tidak ada rasa nikmat, pastinya orang-orang akan cenderung menolak untuk melahirkan anak dan menolak menderita untuk membesarkan anak tersebut.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *