Macam-macam Rukhsah dalam Safar saat bepergian

Hukum Safar

Pertanyaan : Ustad, saya adalah karyawan yang mempunyai pekerjaan sering sekali bepergian keluar pulau. Adakah Rukhsah dalam Safar menurut islam yang diperbolehkan saat bepergian? Dan apakah status saya menjadi musafir ?

Jawaban : Safar adalah Proses terjadinya perpindahan tubuh dari suatu tempat ke tempat yang lain dengan jarak tertentu. Agama Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin.  Ajaran yang di bawa oleh Nabi Muhammad SAW ini mencakup seluruh kehidupan manusia dari segala hal. Salah satu hukum fiqih yang dibahas adalah rukhsah dalam bepergian. 

Bacaan Lainnya

Banyak sekali kemudahan yang bisa kita dapatkan saat bepergian dalam Islam.  salah satunya adalah salat, Thaharah dsb. Dan ini sudah banyak sekali di praktekkan dalam kehidupan islam dari zaman ke zaman.

Beberapa Keringanan/ Rukhsah dalam safar

1 Shalat

Dalam islam di kenal beberapa sholat yang di khususkan untuk musafir yaitu sholat Jama’ dan Qosor. Dua jenis sholat ini sering sekali di amalkan oleh para musafir yang sedang bepergian jauh dan tidak memungkinkan untuk melaksanakan sholat tepat pada waktunya.

Contoh yang paling nyata adalah Jamaah Umroh. Perjalanan pesawat dari Indonesia ke Arab Saudi sekitar 10 jam. Dan itu di pastikan kita tidak akan bisa melaksanakan sholat seperti biasanya. Maka di perbolehkan Sholat Jama’ dan atau Qashar.

Adapun di dalam “Safar” terdapat perbedaan pendapat dari Para Ulama untuk berapa batas jarak orang di katakan musafir .

     وَإِذَا ضَرَبْ تُمْ فِِ الَْرْضِ فَ لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَ قْصُرُواْ مِنَ الصَّلََةِ إِنْ خِفْتُمْ أَن ي فَْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُواْ إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُواْ لَكُمْ عَدُوًّا مُّبِينًا

Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar shalat, jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. An-Nisa : 110)

Sebagai musafir adalah kenapa dibolehkannya kita mengqashar shalat maat masih ada di perjalanan. Adapun dalah had/batasan orang di katakan musafir,  Para Ulama berbeda pendapat untuk berapa batas jarak orang di katakan musafir.

  • Menurut Jumhur Ulama dari kalangan Syafi’i, Hambali dan Maliki memperbolehkan ketika sudah menempuh 16 Farsakh.

         وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَابْنُ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهم – يَقْصُرَانِ وَيُفْطِرَانِ فِى أَرْبَعَةِ بُرُدٍ وَهْىَ سِتَّةَ عَشَرَ فَرْسَخًا

“Dahulu Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum mengqashar shalat dan tidak berpuasa ketika bersafar menempuh jarak 4 burud (yaitu: 16 farsakh).” (HR. Bukhari secara mu’allaq –tanpa sanad-. Diwasholkan oleh Al Baihaqi 3: 137. Lihat Al Irwa’ 565)

  • Menurut Ulama Hanafiyah. Mereka mengambil dalil yang di riwayatkan oleh Ibnu ‘Umar, bahwasanya Nabi SAW Bersabda :

    “لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ”

“Janganlah seseorang itu bersafar selama tiga hari kecuali bersama mahramnya.” (HR. Bukhari Muslim).

  • Tidak ada batasan Jarak dalam Safar

Yang berpendapat adalah Syaikh Ibn Taimiyah, Ibn Qayyim dan madzhab Zhahiri. Dalil yang dipakai adalah Riwayat dari HR Muslim ,

حْيَى بْنِ يَزِيدَ الْهُنَائِىِّ قَالَ سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ عَنْ قَصْرِ الصَّلاَةِ فَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا خَرَجَ مَسِيرَةَ ثَلاَثَةِ أَمْيَالٍ أَوْ ثَلاَثَةِ فَرَاسِخَ – شُعْبَةُ الشَّاكُّ – صَلَّى رَكْعَتَيْنِ

“Dari Yahya bin Yazid Al Huna-i, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Anas bin Malik mengenai qashar shalat. Anas menyebutkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menempuh jarak 3 mil atau 3 farsakh –Syu’bah ragu akan penyebutan hal ini-, lalu beliau melaksanakan shalat dua raka’at (qashar shalat).” (HR. Muslim no. 691).

Masih banyak lagi perdebatan Ulama tentang jarak yang masuk kategory safar, bisa anda cek disini. Adapun yang masyhur adalah jarak yang di tempuh oleh musafir setidaknya 85 km. Ini untuk Lil Ikhtiyaton (kehati-hatian) dalam mengambil Hukum. 

Pada umumnya, semua Sholat Jama’ itu di perbolehkan Qasar. Kaidah yang di gunakan adalah:

    “كلما جاز الجمع، جاز القصر”

“Setiap kali ketika di perbolehkan menjamak shalat, berarti boleh juga meng-Qasarnya.”

Contoh sholatnya orang sakit yang kemungkinan tidak bisa sholat 5 waktu dengan teratur. Maka dia di perbolehkan menjama’ dan mengqasarnya.

2 Thaharah

Dicontohkan lagi bagi Jamaah Umroh, ketika kita di pesawat tidak memungkinkan kita untuk mengamil air wudlu di karenakan persediaan terbatas. Dan air tersebut untuk kebutuhan kamar mandi lainnya.

a. Tayammum dalam Safar

Di dalam pembahasan tayammum juga terjadi perdebatan diantara Ulama. Sebagian ada yang memperbolehkan sebagian ada yang tidak. Tapi yang masyhur adalah di perbolehkannya Tayammum bagi orang yang yang sakit, safar dan tidak ada air. Dasarnya menurut mereka sebagaimana disebutkan di dalam Al-Quran.

وَإِن كُنتُم مَّرضَى أَو عَلَى سَفَرٍّ أَو جَاء أَحَدٌ مِِّنكُم مِِّن الغَآئِطِ أَو لاَمَستُمُ النِِّسَاء فَلَم تََِجدُوا مَاء فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِِّبا فَامسَحُوا بِوُجُوهِكُم وَأَيدِيكُم إِنَّ الِّلََّه كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan kemudian kamu tidak mendapat air maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik ; sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.(QS. An-Nisa : 43)

b. Mengusap Khuf Tiga Hari

Dalam beberapa kasus memang Ulama-ulama berijtihad memberikan keringanan bersuci dalam keadaan safar untuk mengusap khufnya saat berwudhu selama masa waktu tiga hari.

Pensyariatan mengusap khuff diambil dari riwayat hadis Ali R.A

عَنْ عَلِيٍِّّ رَضِيَ الَّلَُّ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ : لَوْ كَانَ الدِِّينُ بِِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَل الُْْخفِِّ أَوْلََى بِِالْمَسْحِ مِنْ أَ علَاهُ وَقَدْ رَأَيْت رَسُولَ الَّله صلى الله عليه وسلم يََْمسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ

Dari Ali bin Abi Thalib berkata : ‘Seandainya agama itu semata-mata menggunakan akal maka seharusnya yang diusap adalah bagian bawah sepatu ketimbang bagian atasnya. Sungguh aku telah melihat Rasulullah mengusap bagian atas kedua sepatunya.’ (HR. Abu Daud dan Daru Qudni, Hadist hasan dan di Sahihkan oleh Ibn Hajar)

Nabi SAW di dalam HadisNya :

جَعَلَ النَّبُِِّى صلى الله عليه وسلم ثلَاثَةَ أَيََّامٍّ وَلَيَالِيهنَّ لِلْمُسَافِرِ وَيوَْمًا وَلَيْلَةً لِلْمُقِيمِ – يعَْنِِى فِِى الْمَسْحِ عَلَى الُْْخفَّيْنِ

Rasulullah menetapkan tiga hari untuk musafir dan sehari semalam untuk orang mukim (untuk boleh mengusap khuff). (HR. Muslim, Abu Daud Tirmizi dan Ibn Majah)

Namun para ulama pada umumnya memahami bahwa yang menjadi ’illat diperbolehkannya Tayammum dari ayat di atas hanya dua saja, yaitu sakit dan tidak terdapatnya air.

3 Keringanan Berpuasa

Keringanan bagi musafir lainnya adalah dibolehkan untuk tidak mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, namun ada kewajiban untuk menggantinya di hari yang lain. Dasarnya adalah firman Allah SWT :

      فَمَنْ كاَنَ مِنكُمْ مَرِ يْضاً أَوْ عَلى سَفَرٍّ فَعدَّة مِنْ أَيََّامٍّ أُخَر

“Dan siapa yang dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan maka menggantinya di hari lain. (Al-Baqarah:1 85)”

Itulah beberapa Rukhsah dalam Safar yang bisa kita amalkan. Semoga kita senantiasa berada dalam Lindungan-Nya dimanapun kita berada. Amin Yaa Robbal Alamiin.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *